Review Buku Maryam | zevinkaput
OHALLO GOOD PEOPLE!!!
Apa kabar teman online
kuuu.
Di edisi postingan kali ini #putbookreview mau ngebahas buku lagi nih! Yang berjudul Maryam. Simak dulu identitas buku nya ya!
Judul : Maryam
Pengarang : Okky Mandasari
Editor : Julie Indahrini
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Genre : Novel
Tebal : 280 Hlm / 20 cm
ISBN : 978-979-22-8009-8
Review
Saya untuk
membaca buku ini perlu menetralkan otak saya, tida memihak pada kaum yang mana
dan siapa. Dalam karya ketiganya Okky Mandasari ini mengangkat tema tentang
Ahmadiyyah, dengan cukup berani dengan menceritakan kehidupan seorang kaum
Ahmadiyyah di Indonesia. Cerita yang mengalir, menghanyutkan saya yang tidak
mau beranjak untuk memberhentikan baca buku sebelum tuntas.
Tokoh utama
dalam buku ini adalah Maryam. Seorang anak dari keluarga Ahmadiyyah yang
tinggal di daerah Gerupuk, Lombok. Sejak kecil maryam ini sudah mengetahui
kalau agama yang diyakininya berbeda dengan agama islam di lingkungannya, ajaran
Ahmadiyyah yang minoritas dikatakan ‘sesat’. Tapi ia sering diteguhkan hatinya
dari orang – orang terdekatnya terutama kedua orangtuanya.
Dikatakan dibuku
ini bahwa praktek agama Ahmadiyyah berbeda, yang mempunyai masjid sendiri yang
dikhususkan orang Ahmadiyyah, dan mempunyai pengajian sendiri, dan jika orang
selain Ahmadiyyah dating ke masjid mereka, mereka akan membersihkan masjid itu
dengan mengguyur air.
Pada suatu
ketika Maryam hendak berkuliah di Surabaya, dan tinggal bersama keluarga
Ahmadiyyah juga untuk membimbing Maryam terus ke jalan yang benar menurut
mereka. Sampai suatu ketika pada saat pengajian rutin malam yang maryam ikuti
bersama keluarga Ahmadiyyah, Maryam di jodoh – jodohkan dengan seorang lelaki sesama
Ahmadi bernama Gamal, lalu mereka saling menyukai. Sampai suatu ketika Gamal
menghilang dan tidak datang ke pengajian, dikatakan ibunya Gamal dipengajian bahwa
gamal sedang tersesat, Gamal mengatakan praktik ajaran Ahamdiyyah itu sesat,
dan pergi dari rumah tanpa kembali dan entah berada dimana.
Maryam
sangat terpukul oleh kehilangan Gamal, ia berpikir apakah masih pantas menyukai
seseorang yang meninggalkan iman? Tapi ia sudah sangat mencintai Gamal. Sampai suatu
ketika Maryam lulus dari Universitas dan melanjutkan bekerja di Jakarta,
tadinya ia diajak tinggal bersaa keluarga Ahmadi juga, tapi ia menolak dan
beralasan bahwa rumah itu terlalu juh dari tempat kerjanya, dan memilih tinggal
sendiri.
Seiring berjalannya
waktu, ia jatuh cinta dan berpacaran dengan seorang pria bernama Alam. Orang
tuanya gusar mengetahui Alam bukan seorang Ahmadi, karena seorang Ahmadi harus
menemuka pasangan yang seiman, yaitu Ahmadi pula. Maryam tidak peduli dan sudah
terlanjur jatuh cinta, ia tidak mau gagal lagi sama seperti saat ia dengan
Gamal.
Ibu Alampun
tidak menyutujui Alam menikah dengan Maryam asalkan Maryam mau menanggalkan
keimanannya yang dulu seorang Ahmadi. Apa mau dikata, Maryam tidak mau gagal lagi,
hany alam satu satunya yang bisa membahagiakan dia. Maryam memilih tetap
menikah dengan Alam yang bukan seorang Ahmadi di Jakarta, dirumah Alam, dengan
sederhana, dan hanya terdapat beberapa tamu saja. ya, ia memilih untuk tak
berhubungan dengan Ahmadi termasuk orangtuanya sendiri demi Alam, sang
suaminya.
Pernikahan
itu tak dijalani dengan mulus, dengan Alam dan Maryam yang tinggal dirumah Ibu
Alam, Maryam sering didapati sindiran tentang dulu ia seorang Ahmadi, dan
mendapat tekanan tentang anak. Ya, Ibu Alam ingin bahwa Maryam segera mempunyai
anak, tapi semakin dipaksakan, dan sudah terlalu banyak cara dijalani, Maryam
tak kunjung hamil. Akhirya maryam tidak kuat dengan ibu mertuanya itu, lalu ia
menggugat e pngedila untuk bercerai.
Setelah kejadian
itu ia ingin bertemu orangtuanya di Lombok, ia gusar, apakah orangtuanya akan
memaafkannya atau tidak. Setelah sampai di Gerupuk ia mengetahui fakta bahwa
keluarganya diusir dari rumahnya sendiri karna dianggap ber-aliran sesat. Setelah
mencari kemana – mana Maryam bertemu orangtuanya kembali di Gegerung, ste;ah
proses pengusiran yang kejam, mereka membeli rumah kembali di Gegerung. Dan
gegerung menjadi tempat Amhadi, Karena seluruh orang yang tinggal di Gegerung
adalah korban dari pengusiran juga.
Tidak lama
Maryam menikah dengan Umar, seorang Ahmadiyah juga, tak lama Maryam Hamil dan
pernikahan mereka bahagia. Tapi saat merayakan 4bulanan pada kehamilan maryam
warga mengusir seluruh orang di Gegerung, lalu polisi mengungsikannya di Transito.
Cerita ini
sangat bagus dan Menarik, ini tidak hanya menceritakan bagaimana kisah
perjalanan hidup Maryam. Tetapi bagaimana konflik antara minoritas dan
mayoritas. Tentu jika dilihat dari sisi agama, agama islam tidak mengajarkan
hal hal yang mengandung kekerasan dan menyakiti hati oranglain, apalagi jika
melihat cerita ini dari sisi kemanusiaan sudah salah sekali, tapi cerita di
buku ini sungguh ‘nanggung’ mulai dari kisahnya dan pada endingpun saya merasa
digantung dan ingin tau kelanjutannya seperti apa.
Mungkin begitu saja review buku edisi dari Aku Lupa BahwaAku Perempuan Ini. Untuk kalian yang sudah baca bukunya, mari tuliskan di kolom komentar pendapat kalian tentang buku ini ya!
Kalau kalian ada request terhadap buku apa selanjutnya yang akan aku review tulis saja di kolom komentar, atau ke email pribadiku, jangan lupa ikuti instagramku ya di @putrizevn.
Sampai berjumpa dipostingan
ku selanjutnya, Peace and luh y! Bye! <3

Komentar
Posting Komentar